Monday, May 26, 2014

My Dream in England #1

Jumat, 16 Mei.
        Kini hujan semakin deras turun melalui kaca-kaca yang berada disamping kami, ditempat yang sama ketika kami terakhir bertemu. Embun yang berada pada kaca itu, menutupi penglihatan kami yaitu bintang. Yang membawa kesunyian antara aku dengan dirinya. Kesunyian ini mengingatkan kami kepada harapan-harapan kami yang dulu pernah kami rangkai bersama. Harapan yang kini sudah tiada artinya, tetapi laki-laki itu masih ingin mewujudkan harapan tersebut bersama diriku. Tapi ku akui itu semua kesalahanku.

      “Lalu apa yang akan kamu untuk sekarang ini? Membuat harapan baru lagi bersamaku dan merusaknya kembali? Kamu bilang kamu ingin mewujudkannya bersamaku, kenyataannya kamu pergi bersama orang lain.” ucap Henna menatap tajam Altan.

      “Bukan maksud aku untuk merusak harapan yang udah kita bangun berdua. Aku hanya ingin kamu tau kepergianku ke Inggris bukanlah kemauanku, tapi keinginan orang tuaku untuk menghantarkan Misyel ke Inggris dan mencarikan kostan selama dia kuliah disana.” Ucap Altan.

 "Emang mesti berdua gitu ya? Tapi kalo ceritanya begitu. Aku minta maaf deh udah marah sama kamu. Aku kira kamu bakal ninggalin aku dan terus tinggal di Inggris berdua sama dia.”

“Itulah Hen yang pengen aku katakan sekarang ini.” ucap Altan menatap bintang.

“Apa Tan, apa?”

“Entahlah ini kabar baik atau buruk bagimu. Tapi aku sangat senang dapat kabar ini. Aku diterima di Imperial College, tepatnya di London dan lusa pagi aku harus kembali kesana.”

“Hfft...aku sih senang kamu bisa dapat kuliah disana. Sebelumnya aku udah tau akan hal ini, karena Mama kamu kasih tau ke aku sewaktu aku datang ke rumah kamu beberapa minggu yang lalu. Aku cuman minta satu hal kok sama kamu selama kamu disana.
 “Apa, apa? Kamu minta aku untuk apa Hen? Loh kok kamu malah main handphone” ucap Altan penasaran.

*Altan mengambil handphone*

“Kamu ngapain bbm aku Hen?” 

“Itu gambar untuk kamu dan itu mewakili mimpiku saat ini Tan dan itu aku buat sendiri untuk kamu dan untuk Inggris.”

              *Altan tersenyum* 
“Jadi, kamu mau aku bawa nih ke Inggris? Boleh nggak ya?” ucap Altan menaikkan satu alis.

“Ayo dong Tan plisss....tapi aku mau kamu bawa aku ke Inggris  kalau ujian aku udah selesai....” ucap Henna tersenyum paksa.

“Hah, berarti tahun depan dong? Masih lama kali. Udah kamu fokus belajar sama berdoa, supaya nilai ujian kamu itu bagus. Abis itu berdoa juga supaya bisa langsung pergi ke Inggris berdua sama aku. Hahaha.” Sambil menyentuh hidung Henna.

Alunan-alunan lagu itu menghantarkan semua orang yang berada di cafe itu menjadi membisu, melirik satu dengan yang lain. Entahlah setiap malam minggu, cafe itu selalu bisa menarik banyak perhatian orang dengan lagu-lagu yang dipasangnya. Dari tertawa, kini mereka turut terdiam sehingga mereka saling melirik karena alunan tersebut. Lalu Altan menceritakan kejadian-kejadian konyol selama ia berada di Inggris. Ia hampir sempat bertemu juga dengan boyband kesukaan Henna yaitu One Direction, disaat hari semakin malam. Mereka sedang melakukan syuting video klip Midnight Memories, tetapi lima laki-laki itu sedang berada di pertengahan laut arah Tower Bridge. Jadi Altan tidak melihatnya terlalu dekat ataupun meminta selfie kepada mereka.

Hampir 3 jam lebih mereka berada disini. Menceritakan kekeluhan mereka masing-masing. Rasanya masih kurang waktu mereka untuk bertemu. Tetapi apa boleh buat waktu menunjukkan jam 10 lewat 20. Altan tak mau lagi ingkar janji kepada Mama Henna, ia harus mengantarkan Henna tidak lewat dari jam 11. Karena ia takut, dirinya tidak bisa berhubungan kembali dengan Henna. Altan pun menghantarkan Henna ke rumah dengan waktu 10 lewat 58. 

“Aku pulang dulu ya. Sampai ketemu besok pagi. Aku harap kamu datang.” ucap Altan kepada Henna.

“Hati-hati ya. Iya, ingat pesanku juga loh.”

No comments:

Post a Comment